Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Sejak diperkenalkan pada tahun 2009 untuk mengenang legenda Hungaria Ferenc Puskás, FIFA Puskás Award telah menjadi panggung tertinggi bagi seni mencetak gol paling indah di muka bumi. Penghargaan ini tidak memandang nama besar klub atau kompetisi, melainkan murni mengapresiasi keajaiban, kreativitas, dan estetika ketika si kulit bundar merobek jala gawang.
Cristiano Ronaldo mengukir sejarah sebagai pemenang edisi perdana pada tahun 2009 berkat tembakan jarak jauh fantastis saat membela Manchester United melawan FC Porto. Kemenangan tersebut membuka era baru pengakuan terhadap gol-gol spektakuler yang dihiasi aksi individu jenius, tendangan salto, hingga eksekusi rabona.
Beberapa pemenang Puskás Award berhasil mengabadikan momen tersebut sebagai salah satu cuplikan terbaik sepanjang karier mereka.
Neymar memenangkannya pada tahun 2011 lewat aksi solo dramatis bersama Santos, sementara Zlatan Ibrahimović mengklaim penghargaan edisi 2013 lewat tendangan salto jarak jauh yang legendaris ke gawang Inggris.
Baca juga: Kenapa Pertandingan Sepak Bola Tidak Memakai Golden Goal Lagi
Panggung Piala Dunia 2014 juga melahirkan gol Puskás saat tembakan voli James Rodríguez menggetarkan gawang Uruguay.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren kemenangan Puskás Award didominasi oleh eksekusi akrobatik yang membutuhkan teknik serta keberanian tingkat tinggi.
Alejandro Garnacho membawa pulang trofi edisi 2024 lewat tendangan salto ikoniknya ke gawang Everton, yang disusul oleh kompatriotnya Santiago Montiel pada edisi 2025 melalui aksi overhead kick yang tak kalah spektakuler bersama Independiente.
Baca juga: Mengapa Ada Tambahan Waktu Injury Time
Keindahan Puskás Award terletak pada sifat demokratisnya, di mana pemain bintang dunia maupun talenta dari liga lokal memiliki kesempatan yang sama untuk diakui. Selama sepak bola terus dimainkan, momen-momen keajaiban instan ini akan selalu menjadi bagian terindah dari olahraga terpopuler di dunia.
2009 — Cristiano Ronaldo (Manchester United / Portugal)
2010 — Hamit Altıntop (Turki)
2011 — Neymar (Santos / Brasil)
2012 — Miroslav Stoch (Fenerbahçe / Slovakia)
2013 — Zlatan Ibrahimović (Swedia)
2014 — James Rodríguez (Kolombia)
2015 — Wendell Lira (Goianésia / Brasil)
2016 — Mohd Faiz Subri (Penang FC / Malaysia)
2017 — Olivier Giroud (Arsenal / Prancis)
2018 — Mohamed Salah (Liverpool / Mesir)
2019 — Daniel Zsori (Debrecen / Hungaria)
Baca juga: Kenapa Pemain Masuk Lapangan Bersama Anak Kecil
2020 — Son Heung-min (Tottenham Hotspur / Korea Selatan)
2021 — Erik Lamela (Tottenham Hotspur / Argentina)
2022 — Marcin Oleksy (Warta Poznań / Polandia)
2023 — Guilherme Madruga (Botafogo-SP / Brasil)
2024 — Alejandro Garnacho (Manchester United / Argentina)
2025 — Santiago Montiel (Independiente / Argentina)