Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Setiap kali pertandingan besar sepak bola hendak dimulai, pemandangan para bintang lapangan berjalan keluar dari lorong stadion sambil menggandeng tangan anak-anak telah menjadi momen ikonis yang dinantikan jutaan pasang mata.
Penampilan para anak pendamping pemain atau player escorts ini tampak seperti tradisi yang sudah ada sejak lahirnya sepak bola modern. Namun, riwayat di balik kehadiran anak-anak tersebut sebenarnya berusia relatif muda dan menyimpan transformasi unik dari sebuah strategi pemasaran lokal hingga menjadi gerakan kemanusiaan global.
Gagasan menghadirkan anak-anak ke dalam lapangan sebelum kick-off pertama kali lahir di Brasil pada 5 September 1976. Ronan Ramos Oliveira, Direktur Hubungan Masyarakat klub Atlético Mineiro, mengusulkan agar para pemain mengandeng anak-anak saat masuk ke lapangan menjelang laga melawan América Mineiro.
Langkah tersebut dirancang untuk menarik minat keluarga agar kembali memadati tribun stadion serta menciptakan ikatan emosional yang lebih dekat antara suporter cilik dan pahlawan lapangan hijau mereka. Kepopuleran konsep ini dengan cepat menyebar ke berbagai klub di Amerika Selatan dan Eropa sepanjang dekade 1980-an hingga 1990-an.
Baca juga: Berapa Tinggi Gawang Sepak Bola
Perubahan skala besar terjadi ketika badan sepak bola Eropa, UEFA, secara resmi mengadopsi tradisi ini pada ajang Piala Eropa (Euro) 2000. Momen tersebut menggantikan kebiasaan lama di mana para pemain dari tim yang sama saling merangkul lengan saat memasuki lapangan. Respons positif dari masyarakat mendorong FIFA untuk membawa konsep ini ke panggung tertinggi sepak bola dunia dua tahun kemudian.
Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang menjadi titik balik bersejarah ketika FIFA meluncurkan program Player Escort secara resmi bekerja sama dengan UNICEF melalui kampanye "Say Yes for Children". Kolaborasi global ini bertujuan untuk mempromosikan hak-hak dasar anak di seluruh dunia, termasuk akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan dari kekerasan. Sejak saat itu, setiap laga di putaran final Piala Dunia selalu melibatkan 22 anak yang mendampingi kedua tim.
Kehadiran anak-anak di samping para pemain profesional memiliki pengaruh psikologis yang cukup mendalam. Anak-anak melambangkan kepolosan dan kemurnian olahraga.
Saat seorang bintang lapangan menggenggam jemari seorang pendamping cilik, tindakan tersebut menjadi pengingat langsung bahwa mereka adalah panutan bagi jutaan anak-anak yang sedang menyaksikan gerak-gerik mereka.
Baca juga: Invincible dalam Sepak Bola
Gestur sederhana ini terbukti ampuh meredam intensitas emosi yang terlalu berlebihan antar pemain sebelum laga dimulai. Dengan kehadiran sosok kecil di samping mereka, para atlet terdorong untuk menjaga perilaku, lebih menghormati lawan serta keputusan wasit, dan menjunjung tinggi nilai-nilai fair play sepanjang 90 menit pertandingan.
Dari sudut pandang keamanan, kehadiran anak-anak di atas lapangan juga berfungsi sebagai peredam alami potensi kekerasan suporter. Dalam laga-laga berintensitas tinggi dengan persaingan sengit, atmosfer stadion sering kali memanas bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan.
Secara psikologis, keberadaan anak-anak kecil yang berdiri tepat di pinggir lapangan atau di depan jajaran pemain membuat para penonton di tribun menahan diri untuk tidak melakukan tindakan anarkis, seperti melemparkan benda-benda berbahaya ke arah lapangan.
Baca juga: Siapa Pemain dengan Assist Terbanyak di Piala Dunia
Rasa empati serta perlindungan terhadap keselamatan anak-anak secara tidak langsung menurunkan tensi provokasi dari tribun penonton.
Bagi anak-anak yang terpilih, kesempatan bergandengan tangan dengan sosok seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, atau Kylian Mbappé adalah pengalaman sekali seumur hidup yang tak terlupakan.
Banyak klub sepak bola memanfaatkan program ini untuk kegiatan sosial, bekerja sama dengan rumah sakit anak, badan amal lokal, atau memberikan penghargaan bagi siswa-siswi berprestasi dari akademi komunitas.
Meski kini beberapa klub besar Eropa mengemas program ini dalam skema komersial maupun kemitraan dengan sponsor utama seperti McDonald's, esensi dasar dari tradisi ini tidak pernah pudar. Kehadiran player escort tetap menjadi jembatan emosional yang menghubungkan megahnya panggung sepak bola profesional dengan impian serta masa depan generasi penerus olahraga ini.