John Heitinga Dipecat Usai Ajax Tenggelam di Liga Champions
Periode kedua John Heitinga di kursi panas sebagai pelatih kepala Ajax Amsterdam berakhir prematur dan pahit. Raksasa Eredivisie itu secara resmi mengumumkan pemecatan legenda klub tersebut, menyusul rentetan hasil yang menghancurkan di awal musim 2025/2026, terutama di panggung Liga Champions UEFA.
Keputusan ini diambil manajemen Ajax hanya sehari setelah De Godenzonen dipermalukan 0-3 di kandang sendiri oleh Galatasaray, kekalahan yang merupakan yang keempat berturut-turut di Fase Liga Liga Champions musim ini.
Jatuh Terpuruk di Eropa
Bagi klub dengan sejarah Eropa yang kaya seperti Ajax, rekor di kompetisi kasta tertinggi benua ini benar-benar tidak dapat diterima. Tim asuhan Heitinga gagal meraih satu pun poin dari empat pertandingan, mencatatkan statistik yang memalukan: hanya mencetak satu gol dan kebobolan total 14 gol.
"Ini adalah keputusan yang sangat berat. Kami tahu butuh waktu bagi pelatih baru untuk bekerja dengan skuad yang telah mengalami banyak perubahan. Kami telah memberikan waktu itu kepada John, tetapi kami yakin yang terbaik bagi klub adalah menunjuk orang lain untuk memimpin tim," ujar Direktur Teknik Ajax, Alex Kroes, dalam pernyataan resmi klub.
Baca juga: Hattrick Osimhen Hancurkan Ajax, Galatasaray Menang Telak 3-0
“Ini keputusan yang menyakitkan. Namun, melihat kembali beberapa bulan terakhir, kami harus menyimpulkan bahwa hasilnya ternyata sangat berbeda dari yang kami bayangkan,” ujar Direktur Teknik Ajax, Alex Kroes, dalam pernyataan resmi klub.
“Kami melihat terlalu sedikit kemajuan dan kehilangan poin secara tidak perlu. Kami tahu butuh waktu bagi pelatih baru untuk bekerja dengan skuad yang telah mengalami perubahan. Kami telah memberi John waktu itu, tetapi kami yakin yang terbaik bagi klub adalah menunjuk orang lain untuk memimpin tim.”
“Kami berharap dapat memperkenalkan pelatih kepala baru sesegera mungkin. Kami berterima kasih kepada John dan Marcel atas upaya mereka dan mendoakan yang terbaik bagi Fred, dimulai dengan pertandingan tandang hari Minggu di Utrecht.
Kekalahan telak 1-5 dari Chelsea, 0-4 dari Marseille, dan 0-2 dari Inter Milan, sebelum ditekuk Galatasaray, menggarisbawahi kerapuhan pertahanan yang parah dan hilangnya identitas sepak bola menyerang yang selalu menjadi ciri khas Ajax. Mereka terpuruk di dasar klasemen kompetisi tersebut, jauh dari ambisi mereka.
Bukan Hanya Eropa
Meskipun Heitinga membawa Ajax tidak terkalahkan dalam beberapa laga awal Eredivisie, performa tim dianggap membosankan dan tidak meyakinkan oleh para pendukung.
Di liga domestik pun, hasil imbang yang sering terjadi membuat mereka tertahan di papan tengah, saat ini di peringkat 4 dengan selisih delapan poin dari pemuncak klasemen Feyenoord.
Baca juga: Pemain Muda Chelsea Bantai 10 Pemain Ajax 5-1 di Stamford Bridge
Secara keseluruhan, mantan asisten Arne Slot di Liverpool ini hanya memimpin Ajax dalam 15 pertandingan di semua kompetisi, dengan catatan 5 kemenangan, 5 imbang, dan 5 kekalahan.
Bersamaan dengan Heitinga, asisten pelatih Marcel Keizer juga diberhentikan. Ajax menunjuk Fred Grim untuk mengambil alih tugas kepelatihan sementara, saat manajemen bergerak cepat untuk mencari pelatih permanen yang diharapkan mampu mengembalikan filosofi dan dominasi klub yang hilang.