Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan permintaan maaf kepada Dewan FIFA setelah kontroversi rencana penjualan sebagian hak komersial kompetisi sepak bola kepada investor swasta. Namun, permintaan maaf tersebut belum meredakan kemarahan sejumlah pejabat sepak bola Eropa yang menilai Infantino harus membuka seluruh dokumen terkait dan menjawab pertanyaan penting sebelum dianggap layak melanjutkan kepemimpinannya. 

Dalam pertemuan Dewan FIFA di Zurich, Swiss, pada Kamis (15/10/2026), Infantino mengakui adanya kesalahan dalam proses komunikasi dan konsultasi terkait proyek FIFA Forward Enterprise (FFE). Pertemuan yang berlangsung selama sekitar tiga setengah jam itu menjadi forum bagi para anggota dewan untuk meminta penjelasan mengenai proposal yang memicu kontroversi tersebut.

FFE dirancang untuk membentuk perusahaan yang mengelola kepentingan komersial kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, dengan rencana menjual sebagian sahamnya kepada investor swasta. Proposal senilai sekitar 4,2 miliar dolar AS itu dibatalkan pada Juli setelah mendapat penolakan keras dari sejumlah pejabat sepak bola, terutama di Eropa.

Meski telah meminta maaf, Infantino belum memberikan dokumen dan jawaban yang diminta para pengkritiknya. Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt, bahkan memperingatkan bahwa Infantino tidak layak menjadi presiden FIFA apabila terus menghindari pertanyaan tersebut. 

Infantino Akui Kesalahan dalam Proses Konsultasi

Dalam pernyataan video setelah pertemuan, Infantino mengatakan dirinya meminta maaf atas kesalahan dalam proses komunikasi dan konsultasi mengenai proyek FFE. Ia menegaskan bahwa proposal tersebut belum pernah menjadi keputusan final.

“Saya meminta maaf atas kesalahan yang kami lakukan terkait proses komunikasi dan konsultasi mengenai proyek FIFA Forward Enterprise, yang kemudian menimbulkan berbagai konsekuensi,” ujar Infantino.

Baca juga: Infantino Setujui Reformasi Tata Kelola FIFA Usai Skandal Penjualan Piala Dunia

Ia juga menekankan bahwa FFE hanyalah sebuah proposal dan bukan kesepakatan yang sudah dipastikan akan terlaksana. Menurut FIFA, proyek itu awalnya ditujukan untuk menghasilkan tambahan pendanaan bagi 211 asosiasi anggota organisasi tersebut.

Namun, penjelasan Infantino belum menjawab pertanyaan utama mengenai alasan proposal itu dirancang secara tertutup tanpa konsultasi memadai dengan anggota Dewan FIFA.

Hewitt mengatakan para anggota masih belum menerima dokumen yang berulang kali diminta. Ia menegaskan bahwa transparansi diperlukan agar para pejabat dapat memahami bagaimana keputusan tersebut dibuat dan apakah prosedur tata kelola organisasi telah dijalankan dengan benar.

“Dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika dia tidak menjawabnya, dia tidak layak menjadi presiden FIFA,” kata Hewitt. 

Presiden FA Jerman Desak Perombakan Menyeluruh

Kritik serupa disampaikan Presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB), Bernd Neuendorf. Ia menilai persoalan yang dihadapi FIFA bukan sekadar kesalahan komunikasi, tetapi menyangkut tata kelola organisasi secara keseluruhan.

Neuendorf menyerukan perombakan menyeluruh terhadap administrasi dan sistem pemerintahan FIFA. Ia juga mempertanyakan ruang lingkup permintaan maaf Infantino, karena menilai penyesalan sang presiden lebih berfokus pada tidak dilibatkannya dewan dalam proses konsultasi daripada substansi proyek FFE itu sendiri.

Baca juga: Infantino Tetap Maju dalam Pemilihan Presiden FIFA di Tengah Gelombang Oposisi

Menurut Neuendorf, anggota dewan baru mengetahui rencana tersebut melalui pemberitaan media, bukan melalui penjelasan resmi dari pimpinan FIFA.

“Seluruh administrasi harus direformasi dan tata kelola juga harus diperbaiki. Namun, saya cukup yakin hal itu tidak mungkin dilakukan dengan Gianni sebagai orang yang bertanggung jawab di FIFA. Karena itu, kita membutuhkan awal yang benar-benar baru,” ujar Neuendorf. 

Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa akan ada kandidat alternatif yang maju untuk menantang Infantino dalam pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027. Sejumlah tokoh sepak bola Eropa disebut menginginkan kandidat yang dapat menyatukan dukungan untuk mendorong reformasi organisasi.

Meski demikian, Infantino masih mendapat dukungan kuat dari sejumlah pejabat sepak bola Afrika dan Asia. Ahmed Yahya, Presiden Federasi Sepak Bola Mauritania, secara terbuka menyatakan bahwa Infantino tetap menjadi sosok yang tepat untuk memimpin FIFA.

Kontroversi Lain Ikut Dipertanyakan

Pertemuan di Zurich tidak hanya membahas FFE. Para anggota dewan juga meminta penjelasan mengenai keputusan mencabut skorsing satu pertandingan terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, setelah menerima kartu merah di Piala Dunia 2026.

Kasus tersebut menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam persoalan hukuman Balogun. Sejumlah pejabat FIFA menginginkan penjelasan mengenai proses pengambilan keputusan yang berujung pada pencabutan sanksi tersebut.

Baca juga: Belgia Tolak Pencalonan Kembali Infantino Gara-Gara Kasus Balogun di Piala Dunia

Selain itu, kontroversi mengenai FIFA Peace Prize yang diberikan kepada Trump turut menjadi pembahasan. FIFA memutuskan untuk menyerahkan persoalan mengenai kelanjutan penghargaan tersebut kepada komite tanggung jawab sosial organisasi.

Hewitt menilai FIFA perlu menjelaskan bagaimana keputusan-keputusan kontroversial itu dibuat sebelum melakukan evaluasi terhadap sistem tata kelolanya. Tanpa mengetahui fakta dan dokumen yang mendasari keputusan tersebut, reformasi dikhawatirkan hanya akan menjadi perubahan formal tanpa menyentuh akar persoalan. 

FIFA sendiri menyatakan bahwa informasi terperinci mengenai proposal investasi FFE masih bersifat rahasia karena adanya proses hukum yang sedang berlangsung di Amerika Serikat. Namun, alasan tersebut belum memuaskan para pengkritik yang menuntut keterbukaan lebih besar dari pimpinan organisasi.

Masa Depan Kepemimpinan Infantino Dipertanyakan

Kontroversi ini menambah tekanan terhadap Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027. Batas waktu pencalonan ditetapkan pada 18 November 2026, sehingga kubu yang menginginkan pergantian kepemimpinan harus segera menentukan langkah.

Pertemuan Dewan FIFA berakhir tanpa memberikan jawaban yang memuaskan bagi sejumlah delegasi Eropa. Meskipun Infantino telah menyampaikan permintaan maaf, ketidakjelasan dokumen dan mekanisme pengambilan keputusan tetap menjadi persoalan utama.

Bagi para pengkritiknya, isu ini bukan hanya tentang sebuah proposal investasi yang gagal dilaksanakan. Persoalan yang lebih besar adalah transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA.

Infantino masih memiliki pendukung yang cukup kuat di berbagai konfederasi, sehingga posisinya belum otomatis terancam secara langsung. Namun, tekanan dari Inggris, Jerman, dan sejumlah pejabat Eropa menunjukkan bahwa permintaan maaf saja belum cukup untuk mengakhiri krisis kepercayaan yang sedang dihadapi organisasi sepak bola dunia tersebut.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!