Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya melunak dan menyetujui pembentukan tim evaluasi independen untuk meninjau sistem tata kelola induk organisasi sepak bola dunia tersebut. Langkah kompromi ini diambil Infantino di tengah gelombang tekanan yang kian masif dari berbagai konfederasi dan asosiasi anggota menyusul kegagalan proyek kontroversial komersialisasi hak siar dan komersial Piala Dunia.
Melalui surat resmi yang dikirimkan kepada 211 asosiasi anggota serta seluruh anggota Dewan FIFA, pria berusia 56 tahun itu menyatakan kesediaannya untuk membuka pintu bagi pemeriksaan eksternal terhadap proses pengambilan keputusan di tubuh FIFA. Rencana evaluasi independen ini dijadwalkan akan dibahas dan disahkan secara resmi dalam rapat Dewan FIFA di Zurich pada 15 Oktober mendatang.
Krisis politik terbesar dalam masa kepemimpinan Infantino ini dipicu oleh bocornya dokumen rencana FIFA Forward Enterprise (FFE). Dalam proposal rahasia bernilai 20 miliar dolar AS tersebut, FIFA berencana menjual 20 persen saham komersial ajang Piala Dunia pria dan wanita kepada investor swasta.
Baca juga: Belgia Tolak Pencalonan Kembali Infantino Gara-Gara Kasus Balogun di Piala Dunia
Rencana tersebut mendapat penolakan keras dari konfederasi sepak bola Eropa (UEFA) dan Amerika Utara (CONCACAF), serta serikat pesepak bola dunia FIFPro.
Gelombang boikot hingga ancaman gugatan hukum memaksa FIFA membatalkan proyek FFE secara mendadak pada pertengahan tahun, yang berujung pada krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.
Dalam suratnya, Infantino mengakui bahwa kurangnya transparansi sebelum proposal tersebut disebarkan telah memicu kekhawatiran meluas di kalangan pemangku kepentingan sepak bola global. Ia menegaskan komitmennya untuk memperbaiki struktur tata kelola agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Infantino juga menambahkan bahwa pembatalan proyek FFE tidak mengurangi ambisi FIFA untuk terus meningkatkan pendapatan demi pengembangan sepak bola dunia, namun ia menekankan bahwa proses pengambilan keputusan di masa depan harus dijalankan melalui mekanisme kelembagaan yang lebih kuat dan inklusif.
“Pertama, saya akan meminta Dewan untuk memutuskan apakah mereka ingin menugaskan tinjauan eksternal independen terhadap kerangka tata kelola FIFA saat ini untuk inisiatif-inisiatif strategis utama serta merekomendasikan potensi perbaikan,” tulis Infantino, dilansir dari the Guardian.
Baca juga: Infantino Tetap Maju dalam Pemilihan Presiden FIFA di Tengah Gelombang Oposisi
“Kedua, saya akan mengusulkan agar Dewan membentuk mekanisme konsultasi yang langsung, terstruktur, dan memiliki batasan waktu bersama konfederasi, asosiasi anggota, dan pemangku kepentingan terkait mengenai bagaimana pengambilan keputusan di FIFA dapat diperkuat lebih lanjut.
“Konsultasi tersebut akan mengundang usulan konkret terkait pelibatan kelembagaan sejak tahap awal, pembagian peran antara presiden, biro, Dewan, dan Kongres, serta langkah-langkah praktis untuk memperkuat transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas dalam inisiatif-inisiatif strategis utama.”
Sikap kooperatif Infantino ini dinilai para pengamat sebagai upaya strategis untuk meredam kekecewaan para pemangku kepentingan jelang Pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027.
Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt, bersama Presiden UEFA Aleksander Ceferin sebelumnya secara terbuka mendesak adanya reformasi menyeluruh serta transparansi terkait penggunaan dana cadangan FIFA.
Meskipun kesediaan Infantino untuk tunduk pada evaluasi eksternal disambut baik sebagai langkah awal yang positif, efektivitas reformasi ini akan sangat bergantung pada sejauh mana independensi dan mandat tim evaluator yang akan ditunjuk pada rapat Dewan FIFA Oktober mendatang.