Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Presiden FIFA Gianni Infantino secara resmi membatalkan rencana kontroversial untuk menjual saham minoritas hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta pada Jumat lalu. Keputusan mendadak ini diambil setelah proposal tersebut memicu gelombang perlawanan hebat dari federasi sepak bola internasional, ancaman boikot kompetisi, hingga pengunduran diri pejabat senior di internal organisasi.
Langkah mundur ini mengakhiri spekulasi sengit selama beberapa hari terakhir mengenai masa depan komersialisasi Piala Dunia. FIFA sebelumnya berencana memisahkan entitas komersialnya dan menjual 20 persen saham senilai 4,2 miliar dolar AS kepada konsorsium swasta yang dipimpin oleh perusahaan asal New York, Thrive Capital, berdasarkan total valuasi entitas yang mencapai 20 miliar dolar AS.
Dalam keterangan resminya dari markas besar FIFA di Zurich, Infantino berusaha meredam ketegangan dengan mengklaim bahwa pembatalan ini dilakukan demi menjaga keharmonisan lanskap sepak bola global.
“Proyek FIFA Forward Enterprise dimaksudkan untuk memberikan dasar bagi penguatan lebih lanjut Asosiasi Anggota FIFA dan olahraga kita di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan. Terlebih lagi, seperti yang telah kami katakan sejak awal, hal ini hanya akan dilakukan jika mayoritas Asosiasi Anggota FIFA mendukungnya dan selalu melalui proses konsultasi dengan mereka, Dewan FIFA, Konfederasi, dan pemangku kepentingan yang lebih luas,” tulis Infantino dalam pernyataan yang dirilis di situs resmi FIFA.
Baca juga: FIFA Bela Diri, Tegaskan Tak Jual Sepak Bola dan Tetap Lanjutkan Proposal
“Setelah mendengarkan dengan saksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang, terlepas dari tingkat dukungannya, tidak lagi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sejak awal.
“Tujuan kami selalu – dan akan selalu – untuk menyatukan dan meningkatkan. Oleh karena itu, proposal ini tidak akan dilanjutkan.
“Ke depannya, niat saya adalah untuk menyatukan kembali semua pihak yang berkepentingan dalam beberapa hari dan minggu mendatang dalam semangat kepentingan bersama dalam permainan kita, dan dengan tujuan untuk terus mengembangkan sepak bola di mana pun, khususnya di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan kita.”
Rencana besar tersebut awalnya dirancang untuk menyuntikkan dana segar secara instan ke federasi-federasi di seluruh dunia.
Demi mengamankan dukungan dari 211 asosiasi anggota FIFA, Infantino menjanjikan pembagian dana tunai langsung sebesar 40 juta dolar AS untuk setiap negara yang menyetujui kesepakatan tersebut.
Baca juga: UEFA Sepakat Boikot Seluruh Kompetisi FIFA Jika Jual Saham Piala Dunia
Bagi negara-negara kecil yang bergantung pada hibah pembangunan FIFA, angka tersebut sangat menggiurkan. Namun, bagi negara-negara kekuatan utama sepak bola, menjual porsi hak komersial Piala Dunia pria dan wanita kepada investor Wall Street dianggap sebagai pelanggaran batas yang tidak dapat ditoleransi.
Penolakan keras dipelopori oleh badan sepak bola Eropa, UEFA, yang menuduh FIFA melakukan negosiasi rahasia dan mengorbankan integritas olahraga demi keuntungan finansial jangka pendek.
Seluruh 55 asosiasi anggota UEFA bahkan mengambil sikap tegas dengan mengancam akan memboikot turnamen FIFA jika rencana penjualan saham tersebut tetap dijalankan.
Baca juga: AFC Tuding FIFA Abaikan Konfederasi Terkait Rencana Penjualan Saham Piala Dunia
Dukungan terhadap UEFA segera mengalir dari konfederasi Amerika Utara (CONCACAF) dan Asia (AFC). Tekanan terhadap Infantino makin memuncak ketika penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes, diikuti oleh kritik terbuka dari Chief Operating Officer FIFA Kevin Lamour yang mengecam kurangnya transparansi dalam proses pengambilan keputusan ini.
Keputusan untuk menarik balik proposal ini menjadi salah satu pukulan politik terberat bagi Gianni Infantino selama sepuluh tahun menjabat sebagai Presiden FIFA. Niat untuk melakukan privatisasi sebagian dari turnamen terbesarnya justru menyatukan konfederasi-konfederasi besar yang biasanya saling bersaing untuk melawan kebijakan Zurich.
Pesan yang dikirimkan oleh para pemangku kepentingan sepak bola dunia kini sangat jelas dan tegas: hak milik atas Piala Dunia tidak bisa diperjualbelikan kepada investor swasta.