Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Hanya tiga hari setelah memetik kemenangan comeback 2-1 atas Celta Vigo di ajang Liga Europa, Juventus kembali dihempaskan ke bumi secara menyakitkan. Menjamu Lazio di Allianz Stadium, Si Nyonya Tua tampil tanpa taji dan dipaksa menyerah tiga gol tanpa balas dalam lanjutan Serie A.
Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, yang harus menyaksikan laga dari tribun akibat sanksi larangan mendampingi tim, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Meskipun asisten pelatih Marco Domenichini bertugas di pinggir lapangan, Spalletti secara terbuka mengakui bahwa performa anak asuhnya jauh dari kata layak dan menegaskan perlunya perubahan mendasar dalam tubuh tim.
Lazio yang tampil disiplin berhasil menghukum setiap kelalaian lini belakang tuan rumah. Oliver Provstgaard membuka keunggulan tim tamu lewat sundulan terukur pada menit ke-37.
Memasuki babak kedua, Gustav Isaksen menggandakan keunggulan I Biancocelesti melalui tembakan sudut sempit pada menit ke-66, sebelum Fisayo Dele-Bashiru menyempurnakan kemenangan Lazio lewat skema serangan balik cepat di penghujung laga.
Baca juga: Juventus Dibantai Lazio 0-3 di Kandang Sendiri
Hasil ini menjadi kekalahan kandang dengan selisih tiga gol pertama Juventus dari Lazio di ajang Serie A sejak Maret 2001. Performa yang minim tempo, tanpa ide kreatif, serta lemah dalam duel-duel krusial membuat publik tuan rumah kecewa berat.
Usai pertandingan, Spalletti memberikan evaluasi yang sangat menohok. Ia secara gamblang menyebut Juventus berada di bawah level Lazio dalam seluruh parameter permainan.
“Ini jelas merupakan penampilan Juventus yang inferior; tim ini tidak mampu mengendalikan permainan, pun tidak memiliki gagasan ke arah mana permainan harus dibawa,” aku Spalletti kepada DAZN Italia.
“Sulit untuk menjelaskannya, bahkan kepada diri kami sendiri, karena kami baru tiba kembali pada Jumat pukul 4 pagi dari Vigo, lalu membiarkan para pemain memulihkan kondisi bersama staf performa fisik.”
“Kami mencoba mengubah beberapa hal—ada enam pemain baru yang diturunkan—tetapi pergerakan fisik maupun pikiran kami terasa lamban. Dalam sepak bola, Anda bisa melihat lawan dan bola; jika Anda terlalu lambat bereaksi, serta tidak menunjukkan semangat ataupun ritme permainan, maka taktik dan sistem apa pun menjadi tidak relevan.”
Spalletti menjelaskan bahwa ia tidak mengubah pendekatan komunikasi maupun hubungan personalnya dengan skuad. Namun, ketidakmampuan para pemain untuk memberikan reaksi positif saat tertinggal memaksanya untuk melakukan peninjauan ulang secara mendalam terhadap dinamika internal tim.
Baca juga: Spalletti Puas Juventus Berani Ambil Risiko Lawan Celta, Sindir Performa Conceição
Kekalahan ini membuat Juventus tertinggal delapan poin dari puncak klasemen Serie A setelah melakoni tujuh pertandingan. Perolehan 11 poin yang mereka kumpulkan sejauh ini bahkan lebih rendah dibandingkan catatan tim pada pekan yang sama musim lalu.
“Jelas, kita perlu melakukan analisis dan hanya ada dua kemungkinan. Kita bisa membahas cara kita berbicara kepada tim, atau metode kerjanya. Sudah pasti ada sesuatu yang harus diubah,” tambah Spalletti.
“Saya pun terkejut dengan performa ini, jadi saya perlu memikirkannya dengan matang. Pasalnya, saya tidak mengubah cara saya berbicara kepada para pemain; saya ingin berkomunikasi dengan mereka dan membangun hubungan yang baik. Itu memang selalu menjadi gaya saya.”
Dengan jadwal padat yang menanti di kompetisi domestik dan Eropa, Spalletti dituntut menemukan formula yang tepat dengan cepat. Pertanyaan besarnya kini adalah apakah eks pelatih timnas Italia tersebut akan merombak skema taktiknya atau merubah pendekatan kepemimpinannya demi membangkitkan kembali mental bertarung skuad Bianconeri.