Kembali ke Inggris, Vardy Ungkap Masa-Masa Buruk Main di Italia
Jamie Vardy secara resmi telah kembali ke tanah Britania dan menegaskan sama sekali tidak memiliki niat untuk kembali berkarier di Italia. Penyerang legendaris berusia 39 tahun tersebut baru saja menyelesaikan musim 2025/2026 yang penuh gejolak bersama klub Serie A, Cremonese, yang berakhir dengan pil pahit degradasi ke Serie B.
Berbicara blak-blakan dalam episode perdana siniar terbarunya, 'Jamie Vardy's Having a Party', mantan penggawa Leicester City ini mengungkapkan bahwa keputusannya merantau ke Italia merupakan sebuah kesalahan besar. Vardy tidak ragu menyebut adaptasi di Serie A sebagai sebuah perjuangan yang menyiksa, terutama karena dampak psikologis dan sosial yang harus ditanggung oleh keluarganya di luar lapangan.
Realita Pahit di Luar Lapangan
Bagi Vardy, keputusan memboyong istri dan anak-anaknya ke sebuah rumah mewah di kawasan Danau Garda berubah menjadi mimpi buruk. Selain kendala bahasa yang membuat anak-anaknya kesulitan membaur di sekolah baru, keluarga Vardy sempat menjadi korban perampokan bersenjata saat ia sedang melakoni laga tandang di Roma. Kawanan pencuri menggasak barang berharga senilai £800.000, yang membuat sang istri, Rebekah, trauma dan merasa tidak aman.
Baca juga: Vardy Jadi Pemain Terbaik Serie A Bulan November, Ukir Sejarah Inggris Pertama
Kondisi tersebut membuat Vardy dirundung rasa bersalah yang mendalam karena telah memisahkan anak-anaknya dari lingkungan rumah mereka di Inggris. Faktor kenyamanan keluarga inilah yang akhirnya membuat Vardy memulangkan mereka lebih awal ke Inggris sebelum musim kompetisi Serie A benar-benar berakhir.
Ketika ditanya apakah senang bisa kembali ke tanah kelahiran, Vardy menjawab, “Sangat menyenangkan. Kami sudah memindahkan anak-anak kembali, itu memang sulit, sungguh.”
Kritik Pedas Kultur Sepak Bola Italia
Penderitaan Vardy tidak hanya terjadi di luar lapangan, melainkan juga di dalam ekosistem sepak bola Italia itu sendiri. Striker yang mengemas 7 gol dan 3 asis dari 29 penampilan untuk Cremonese ini melontarkan kritik keras terhadap porsi latihan fisik di Italia yang dianggapnya tidak rasional dan menguras habis tenaga pemain sebelum pertandingan dimulai.
"Dibandingkan dengan di Inggris, tempo permainan di sana memang jauh lebih lambat dan defensif," kata pemenang Premier League 2015/2016 tersebut.
“Latihan itu terus-menerus: Lari, lari, lari, lari. Anda masuk ke pertandingan dan Anda benar-benar kelelahan. Benar-benar lelah, seolah tidak ada lagi energi yang tersisa untuk diberikan. Dan itu tidak hanya terjadi pada saya, tetapi di setiap tim."
Selain masalah fisik, Vardy juga mengaku sangat heran dengan besarnya intervensi jajaran manajemen, khususnya Direktur Olahraga, yang terlalu masuk hingga ke dalam ruang ganti pemain.
"Cara kerja di sana adalah Direktur Olahraga memiliki suara dalam segala hal. Segalanya. Itu gila bagi saya,” jelasnya.
“Saya ingat, saya harus menertawakannya, kami bermain melawan Bologna di kandang lawan. Jadi minggu itu, untuk pertandingan melawan Bologna, kami melakukan apa yang biasanya kami lakukan di Inggris, kami mendapat libur sehari setelah pertandingan. Kami memasuki pertandingan itu dengan kondisi sangat segar. Di kandang lawan, menang 3-1. Semua orang senang.
Baca juga: Juventus Mengamuk, Lumat Cremonese Lima Gol Tanpa Balas
“Jadi dalam pikiran saya, saya berpikir ‘baiklah, pertahankan saja, lakukan persis sama’. Kemudian kami bermain melawan Pisa minggu berikutnya. Direktur olahraga berkata ‘ini pertandingan besar, pertandingan besar’. Saya berpikir ‘ya, semuanya besar, tidak ada pertandingan yang berbeda’. ‘Tidak, tidak, tapi yang ini besar’.
“Mereka melatih kami setiap hari, bermain melawan Pisa, kalah.”
Menatap Status Bebas Transfer
Dengan Cremonese yang finis di peringkat ke-18 dan harus turun kasta ke Serie B, Vardy memilih untuk tidak mengaktifkan klausul perpanjangan kontrak satu tahun yang dimilikinya. Kini, striker ikonik Inggris tersebut berstatus bebas transfer per 30 Juni mendatang.
Meskipun usianya sudah hampir menginjak kepala empat, Vardy dikabarkan belum berniat gantung sepatu. Ia masih membuka peluang untuk bergabung dengan klub-klub di kompetisi domestik Inggris yang membutuhkan tambahan penyerang berpengalaman, asalkan ia bisa tetap dekat dengan keluarga dan bermain di lingkungan sepak bola yang sudah sangat dihafalnya.