Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Bek Arsenal, Riccardo Calafiori, mengungkapkan bahwa keberhasilan menjuarai Premier League 2025-2026 menjadi hari terbaik dalam hidupnya. Namun, pemain tim nasional Italia tersebut juga mengungkapkan bahwa sejumlah rekan setimnya sempat tidak ingin mengikuti parade di London setelah mereka kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions sehari sebelumnya.
Dalam wawancara dengan situs resmi Arsenal, Calafiori mengenang momen emosional ketika The Gunners memastikan gelar liga pertama mereka dalam 22 tahun. Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan hanya membawa kebahagiaan bagi para pemain, tetapi juga mengakhiri penantian panjang klub dan para pendukungnya.
Arsenal memastikan gelar Premier League 2025-2026 sebelum pertandingan terakhir musim tersebut. Kepastian itu disambut meriah oleh para pemain yang berkumpul di tempat latihan untuk menyaksikan hasil pertandingan Manchester City, pesaing utama mereka dalam perebutan gelar.
Calafiori mengaku sulit menggambarkan perasaan ketika mengetahui Arsenal akhirnya menjadi juara Inggris. Ia menilai keberhasilan tersebut memberikan kelegaan besar bagi seluruh anggota klub setelah melewati persaingan panjang sepanjang musim.
“Sangat sulit untuk menjelaskannya, tetapi rasanya luar biasa memuaskan dan juga menjadi kelegaan besar bagi seluruh klub serta keluarga Arsenal,” kata Calafiori.
Baca juga: Arsenal 3-0 Lille: Super-Sub Saka Bawa Arsenal Raih Tiga Poin
Bek berusia 24 tahun tersebut menceritakan bahwa para pemain berkumpul bersama di tempat latihan untuk menyaksikan pertandingan Manchester City melawan Bournemouth. Mereka kemudian merayakan kepastian gelar dalam suasana penuh kegembiraan.
“Malam itu, semua pemain berkumpul di tempat latihan untuk menyaksikan pertandingan antara Manchester City dan Bournemouth. Kami semua merayakannya bersama-sama. Sungguh luar biasa. Ini jelas merupakan hari terbaik dalam hidup saya, apalagi karena hari itu juga bertepatan dengan ulang tahun saya. Benar-benar gila,” lanjutnya.
<blockquote class="twitter-tweet"><p lang="en" dir="ltr">We did it, together. https://t.co/wQDp02LvLd</p>— Arsenal (@Arsenal) <a href="https://x.com/Arsenal/status/2056845454978015266?ref_src=twsrc%5Etfw">May 19, 2026</a></blockquote> <script async src="https://platform.x.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>
Bagi Calafiori, momen tersebut memiliki makna pribadi yang istimewa. Selain meraih trofi terbesar dalam kariernya sejauh ini, ia juga dapat merayakan hari ulang tahunnya bersamaan dengan keberhasilan Arsenal menuntaskan penantian panjang untuk kembali menjadi juara Premier League.
Kegembiraan atas gelar Premier League sempat dibayangi kekecewaan setelah Arsenal kalah dari PSG di final Liga Champions 2025-2026. Pertandingan di Budapest tersebut berakhir dengan kekalahan The Gunners melalui adu penalti.
Sehari setelah pertandingan itu, para pemain Arsenal tetap mengikuti parade bus atap terbuka bersama para pendukung di London Utara untuk merayakan gelar liga. Namun, Calafiori mengakui bahwa tidak semua pemain awalnya berada dalam suasana hati yang tepat untuk berpesta.
“Parade itu juga sedikit rumit karena berlangsung pada pagi hari setelah kami kalah di final Liga Champions. Beberapa dari kami bahkan berbicara di pesawat dalam perjalanan pulang dari Hungaria dan mengatakan bahwa kami benar-benar tidak ingin melakukannya,” ungkapnya.
Baca juga: Arsenal Resmi Ikat Mikel Arteta dengan Kontrak Baru Hingga 2030
Meski demikian, suasana berubah ketika para pemain melihat banyaknya suporter yang datang untuk merayakan keberhasilan mereka. Sambutan luar biasa tersebut membuat para pemain menyadari betapa pentingnya gelar Premier League bagi pendukung Arsenal.
“Tetapi ketika melihat betapa banyaknya orang yang hadir, kami benar-benar terkejut! Pada akhirnya, parade itu memang keputusan yang tepat karena musim tersebut tetap menjadi musim yang luar biasa bagi kami,” tambah Calafiori.
Calafiori menegaskan bahwa kekalahan dari PSG tidak seharusnya menghapus pencapaian Arsenal sepanjang musim. Menurutnya, klub perlu melihat keseluruhan perjalanan mereka, bukan hanya berfokus pada kegagalan meraih trofi Liga Champions.
“Kami tidak boleh membiarkan kekalahan di final Liga Champions memengaruhi cara kami memandang musim tersebut. Kami harus melihat gambaran yang lebih besar, dan semuanya benar-benar luar biasa,” ujarnya.
<blockquote class="twitter-tweet"><p lang="en" dir="ltr">North London takeover ⚡️ https://t.co/uqt0EYcXIY</p>— Arsenal (@Arsenal) <a href="https://x.com/Arsenal/status/2061130206824595462?ref_src=twsrc%5Etfw">May 31, 2026</a></blockquote> <script async src="https://platform.x.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>
Keberhasilan menjuarai Premier League mengakhiri penantian Arsenal selama 22 tahun sejak terakhir kali menjadi juara pada musim 2003-2004. Tim asuhan Mikel Arteta juga mengakhiri rangkaian tiga musim berturut-turut sebagai runner-up sebelum akhirnya kembali mencapai puncak kompetisi domestik.
Bagi Calafiori, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak hanya ditentukan oleh hasil satu pertandingan. Meski kegagalan di final Liga Champions meninggalkan kekecewaan mendalam, perayaan bersama para pendukung memperlihatkan besarnya arti gelar liga bagi klub.
Arsenal kini memasuki musim baru dengan ambisi mempertahankan posisi mereka di antara tim-tim terbaik Eropa. Calafiori berharap pengalaman meraih gelar Premier League dan kekalahan di final Liga Champions dapat menjadi motivasi bagi tim untuk kembali bersaing memperebutkan trofi utama.