Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Manajer Real Madrid, José Mourinho, kembali mencuri perhatian dengan psywar khasnya usai memimpin Los Blancos mengukir kemenangan spektakuler 4-3 atas AS Roma di Stadio Olimpico. Mourinho menegaskan bahwa anak asuhnya "tidak mungkin dihentikan" dalam 20 menit terakhir, seraya menyebut skuad tuan rumah telah kehabisan bensin saat mengira pertandingan sudah dalam genggaman.
Laga kembalinya Mourinho ke markas mantan klubnya berlangsung menegangkan. Sempat tertinggal 1-3 hingga memasuki sepuluh menit terakhir, raksasa Spanyol itu bangkit secara mendadak dengan mencetak tiga gol balasan cepat dari situasi bola mati.
Roma tampil sangat dominan di paruh pertama dan sukses memimpin dua gol lewat aksi Donyell Malen dan Marten de Roon. Meskipun Kylian Mbappé sempat memperkecil ketertinggalan pada laga ke-100 miliknya di Liga Champions, gol kedua Malen membuat tuan rumah berada di atas angin hingga menit ke-80.
Baca juga: Real Madrid Comeback Sensasional, Kalahkan AS Roma 4-3 di Liga Champions
Namun, keajaiban khas Real Madrid kembali terulang di panggung Eropa. Berawal dari eksekusi sepak pojok Arda Güler, tiga gol beruntun tercipta melalui sundulan Carlos Espi, Endrick, serta mantan bek Roma Antonio Rüdiger pada menit ke-90 untuk mengunci kemenangan balik 4-3.
“Bisa dibilang ini seperti dua pertandingan dalam satu laga; Roma unggul dalam segala aspek di bagian pertama, lalu Real Madrid tak terbendung selama 20 menit tersebut,” kata Mourinho kepada Amazon Prime Video Italia.
“Mereka mengejutkan kami di awal dengan menempatkan Matias Soulé di sisi sayap, sehingga menciptakan keunggulan jumlah pemain di area tersebut. Kami kebobolan gol konyol yang seharusnya tidak boleh terjadi di level ini.”
Menanggapi keputusasaan kubu tuan rumah yang gagal mempertahankan keunggulan, Mourinho menilai intensitas tinggi yang diterapkan Roma sejak awal laga berbalik menjadi senjata makan tuan. Menurutnya, penurunan fisik lawan di penghujung pertandingan menjadi celah fatal yang dimanfaatkan sempurna oleh anak asuhnya.
Baca juga:
"Selamat untuk Italia": Mourinho Sindir Barcelona dan Penanganan Skandal Wasit di Spanyol
“Setelah tertinggal 1-3, mungkin semua orang mengira pertandingan sudah berakhir, tetapi satu-satunya pihak yang benar-benar ‘mati’ adalah para pemain Roma. Sangat sulit untuk mengimbangi intensitas dan gaya sepak bola yang mereka terapkan,” tambah Mourinho.
“Kami melakukan beberapa perubahan, karena kebobolan tiga, empat, atau lima gol tidaklah banyak berbeda. Roma tidak mampu mengatasi gelombang serangan bertubi-tubi yang kami lancarkan.”
Kemenangan dramatis ini menjaga rekor impresif Real Madrid di fase grup Liga Champions sekaligus membuktikan karakter mental juara Los Blancos yang pantang menyerah hingga peluit panjang berbunyi.