Bagi jutaan orang di Argentina dan Napoli, Diego Armando Maradona bukanlah sekadar pemain sepak bola; ia adalah sebuah agama, simbol perlawanan, dan pahlawan kelas pekerja. Ketika kita berbicara tentang pemain hebat, kita biasanya menghitung jumlah gol, rentetan trofi, atau rekor statistik murni. 

Namun, saat membicarakan Maradona, metrik tersebut seketika menjadi tidak relevan karena warisannya dibangun di atas emosi yang meluap, kejeniusan teknis yang murni, serta kontradiksi sebagai manusia biasa yang rapuh.  

Mukjizat Tunggal di Meksiko 1986

Dalam sejarah panjang Piala Dunia, tidak ada satu pun pemain yang pernah mendominasi sebuah turnamen sebesar yang dilakukan Maradona pada edisi 1986 di Meksiko. Ia memimpin tim nasional Argentina menuju kejayaan tertinggi, nyaris dengan usahanya sendiri. 

Puncak dari seluruh mitologi tersebut terjadi secara dramatis hanya dalam rentang waktu empat menit pada babak perempat final melawan Inggris.  

Baca juga: Mengapa Cristiano Ronaldo Bisa Bertahan di Level Tertinggi?

Gol pertamanya adalah sebuah tipu daya epik yang kini abadi sebagai "Tangan Tuhan" (Hand of God), di mana ia meninju bola melewati kiper Peter Shilton tanpa disadari oleh wasit. 

Namun, hanya empat menit berselang, ia membersihkan dosa tersebut dengan mencetak apa yang kelak dinobatkan oleh FIFA sebagai "Gol Abad Ini" (Goal of the Century). Ia menggiring bola sejauh 60 meter, melewati lima pemain bertahan Inggris berserta sang penjaga gawang, lalu menceploskannya perlahan ke jala yang kosong. 

Dalam satu pertandingan monumental, Maradona menampilkan dua sisi mata uang yang membuatnya begitu dipuja: kelicikan jalanan ala potrero Argentina dan bakat titipan dewa yang sama sekali tidak bisa dipahami oleh logika.  

Mengangkat Derajat Napoli

Kehebatan magis Maradona tidak hanya berhenti di panggung internasional. Di level klub, keputusannya untuk meninggalkan Barcelona dan bergabung dengan Napoli pada tahun 1984 mengubah geopolitik sepak bola Italia selamanya. 

Pada masa itu, kasta tertinggi Serie A dikuasai secara mutlak dan arogan oleh klub-klub kaya dari utara seperti Juventus, AC Milan, dan Inter Milan. Wilayah selatan Italia, khususnya Naples, sering kali dipandang sebelah mata dan menjadi sasaran diskriminasi sosial ekonomi.  

Baca juga: Mengapa Lionel Messi Dianggap Salah Satu Pemain Terbaik?

Maradona tiba sebagai penyelamat bagi kota tersebut. Dengan visi bermain melampaui zaman, kontrol bola yang menempel seolah magnet di kakinya, dan keberaniannya, ia mengangkat Napoli memenangkan gelar Serie A pertama mereka pada musim 1986/1987, dan mengulanginya pada 1989/1990. 

Ia memberi martabat serta kebanggaan bagi masyarakat yang selama ini terpinggirkan, mengubah dirinya menjadi sosok suci yang wajahnya hingga kini masih menghiasi setiap sudut dinding kota Naples.  

Kemanusiaan dalam Kesempurnaan

Dunia olahraga modern penuh dengan atlet yang diprogram seperti mesin, dirancang untuk menjaga citra publik yang sempurna tanpa celah. Maradona adalah antitesis dari semua kepalsuan itu. 

Ia bermain dengan hati yang telanjang, menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil saat kalah di final Piala Dunia 1990, dan tidak pernah menyembunyikan sisi gelap kehidupannya yang diwarnai oleh berbagai iblis pribadi.  

Julukannya, "D10S", yang merupakan gabungan brilian dari nomor punggung 10 dan kata Spanyol untuk Tuhan (Dios), merangkum secara sempurna posisinya di mata dunia. Ia adalah seorang manusia fana yang lahir dari debu kemiskinan di Lanús, memiliki begitu banyak kekurangan, namun dianugerahi sentuhan magis yang mampu membuat seluruh dunia terpana merayakannya. 

Keberaniannya untuk menjadi sosok yang tidak sempurna itulah yang membuat status legendanya tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.  

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!