Pape Thiaw Buka Suara Soal Aksi Mogok Main Senegal di Final AFCON
Pelatih tim nasional Senegal, Pape Bouna Thiaw, akhirnya angkat bicara mengenai keputusannya yang sangat kontroversial saat menginstruksikan para pemainnya keluar lapangan pada laga final Piala Afrika (AFCON) 2026 melawan Maroko, Senin (19/1) lalu.
Dalam pernyataan yang penuh emosi, Thiaw mengakui bahwa tindakan tersebut merupakan reaksi spontan yang didorong oleh perasaan ketidakadilan yang mendalam dan tekanan emosional di panggung tertinggi sepak bola Afrika.
Momen Kekacauan di Menit Berdarah
Drama bermula di masa injury time babak kedua saat skor masih imbang 0-0. Senegal sempat mengira mereka telah mencetak gol kemenangan, namun wasit Jean-Jacques Ndala menganulir gol tersebut karena dianggap terjadi pelanggaran terlebih dahulu.
Baca juga
Kecam Aksi Mogok Main Senegal di Final, Regragui: Memalukan bagi Afrika
Brahim Diaz Minta Maaf Usai Gagal Penalti Panenka di Final AFCON
Tak berselang lama, VAR justru menghadiahi penalti bagi tuan rumah Maroko setelah Brahim Diaz dijatuhkan di kotak terlarang.
Keputusan beruntun yang merugikan tersebut memicu amarah di bangku cadangan Senegal. Thiaw yang murka memerintahkan seluruh skuadnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes, yang menyebabkan pertandingan terhenti selama kurang lebih 14 menit.
“Saya tidak pernah berniat untuk melanggar prinsip-prinsip permainan yang sangat saya cintai,” tulis Thiaw di Instagram.
“Saya hanya mencoba melindungi pemain saya dari ketidakadilan. Apa yang sebagian orang anggap sebagai pelanggaran aturan hanyalah reaksi emosional terhadap bias situasi tersebut. Setelah pertimbangan, kami memutuskan untuk melanjutkan pertandingan dan memperebutkan trofi.”
Peran Krusial Sadio Mane
Laga hampir berakhir dengan skandal besar jika bukan karena intervensi sang kapten, Sadio Mane. Mantan bintang Liverpool tersebut dilaporkan menjadi sosok yang membujuk rekan-rekan setimnya untuk kembali ke lapangan dan membujuk Thiaw untuk membatalkan perintah walk-off.
Keputusan untuk kembali terbukti berbuah manis. Setelah pertandingan dilanjutkan, eksekusi penalti Panenka dari Brahim Diaz berhasil diamankan dengan tenang oleh Edouard Mendy. Senegal kemudian bangkit di babak perpanjangan waktu dan memastikan gelar juara kedua mereka berkat gol tunggal Pape Gueye di menit ke-94.
“Saya minta maaf jika saya telah menyinggung siapa pun,” tambah Thiaw. “Tetapi para pecinta sepak bola akan mengerti bahwa emosi adalah bagian integral dari olahraga ini.”
Kecaman dari Kubu Maroko
Meskipun Senegal akhirnya keluar sebagai juara, aksi Thiaw menuai kritik tajam dari pelatih Maroko, Walid Regragui. Regragui menyebut insiden tersebut sebagai citra buruk bagi sepak bola Afrika.
Baca juga
Piala Afrika 2025: Senegal Secara Dramatis Rebut Gelar usai Bungkam Maroko
Maroko Tempuh Jalur Hukum Pasca Aksi Mogok Main Kontroversial Senegal
"Citra yang kita berikan kepada dunia hari ini sungguh memalukan," ujar Regragui. "Seorang pelatih yang menyuruh pemainnya keluar lapangan... Apa yang dilakukan Pape malam ini tidak menghormati Afrika."
“Dia sudah mulai berbicara di konferensi pers [sebelum pertandingan]. Dia tidak berkelas. Tapi dia seorang juara, jadi dia bisa mengatakan apa pun yang dia mau.”
Ancaman Sanksi Menanti
Meski Thiaw telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, CAF (Konfederasi Sepak Bola Afrika) dilaporkan tengah meninjau laporan resmi pertandingan. Pelatih berusia 44 tahun tersebut terancam sanksi disiplin berupa denda berat atau larangan mendampingi tim dalam beberapa pertandingan internasional mendatang.
Bagi Senegal, kemenangan ini adalah sejarah besar, namun bagi Thiaw, ini akan selalu diingat sebagai malam di mana emosi hampir saja merenggut mimpi seluruh bangsa.