Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Mantan manajer Tottenham Hotspur dan Chelsea, Mauricio Pochettino, melancarkan kritik paling tajam terhadap era dominasi Manchester City, menggambarkan kesuksesan berturut-turut klub tersebut sebagai "periode penipuan". Pernyataan menohok ini disampaikan pelatih asal Argentina tersebut menyusul laporan yang menyebutkan bahwa The Citizens terbukti bersalah atas pelanggaran masif terhadap peraturan keuangan Premier League.
Laporan yang beredar mengungkap bahwa komisi independen telah memutus Manchester City bersalah atas sebagian besar dari 115 dakwaan finansial yang dituduhkan antara musim 2009–2010 hingga 2017–2018. Premier League kemudian mengumumkan putusan komisi independen pada Selasa (29/9) bahwa City bersalah atas semua tuduhan tersebut.
Pochettino, yang saat ini menangani tim nasional putra Amerika Serikat, menegaskan bahwa hukuman apa pun yang dijatuhkan nanti tidak akan pernah bisa memulihkan kerugian moral dan sportivitas yang dialami klub-klub pesaing.
Bagi Pochettino, ketidakseimbangan finansial telah mencederai kompetisi yang selama ini dijunjung tinggi.
"Apa pun hukumannya, waktu tidak bisa diputar kembali. Kerusakan yang terjadi sudah sangat besar," kata Pochettino.
Baca juga: “Kontrak dan Kesepakatan Palsu”, Premier League Menyatakan Man City Bersalah
"Pada akhirnya, banyak klub mematuhi aturan sementara yang lain tidak... Apa yang akan mereka lakukan? Hukuman finansial? Pengurangan poin? Situasinya sangat sulit. Ini menyedihkan.
"Pada akhirnya, kita telah melalui situasi di mana sportivitas tidak ada... Jika benar ada 114 aturan yang dilanggar, berarti kita telah menjalani masa penuh tipu daya."
Frustrasi Pochettino bukanlah tanpa alasan. Mengingat masa jabatannya di Tottenham Hotspur saat membawa klub mencapai final Liga Champions dan bersaing di papan atas Premier League, ia menyinggung bagaimana ketatnya regulasi finansial membelenggu pergerakan timnya di bursa transfer.
"Saya ingat ketika berada di Southampton dan kemudian Tottenham—saat kami membangun Stadion Tottenham Hotspur, kami tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mendatangkan pemain selama 18 bulan,” jelasnya.
Baca juga: CEO Manchester City Tegaskan Tak Akan Tinggal Diam Usai Dinyatakan Bersalah
“Tottenham bersaing memperebutkan gelar juara dengan tim-tim di atas kami dan selalu finis di empat besar setiap tahunnya, bahkan mencapai semifinal Liga Champions tanpa bisa melakukan transfer pemain selama 18 bulan—semua itu karena kami harus menyesuaikan diri dengan aturan pengendalian keuangan Premier League?
“Mereka begitu ketat terhadap kami, namun begitu longgar terhadap klub lain. Itulah sebabnya saya katakan bahwa semua ini sangat aneh.”
Spekulasi kini merebak terkait sanksi berat yang membayangi Manchester City. Pilihan sanksi mulai dari denda finansial raksasa, pengurangan poin masif, hingga potensi pencopotan gelar juara atau pembekuan status dari Premier League terus menjadi perbincangan hangat.
Di sisi lain, jajaran pimpinan Manchester City membantah keras seluruh tuduhan tersebut. Chairman klub, Khaldoon Al Mubarak, menegaskan keyakinannya bahwa klub akan mampu membuktikan ketidakbersalahan mereka melalui proses hukum lanjutan.
Kendati demikian, pernyataan keras Pochettino mencerminkan kemarahan mendalam yang dirasakan oleh para pelaku sepak bola atas dugaan pelanggaran integritas paling dahsyat dalam sejarah sepak bola modern.