Pelatih Napoli, Massimiliano Allegri, yakin Kevin De Bruyne akan menikmati peran sebagai pengatur permainan di depan lini pertahanan. Namun, kemenangan dramatis 4-3 atas Bodø/Glimt pada matchday ketiga Liga Champions 2026-2027 belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran mengenai rapuhnya pertahanan tim asal Italia tersebut.

Napoli mengamankan tiga poin pertamanya di fase liga setelah melewati pertandingan penuh ketegangan di Stadio Diego Armando Maradona, Rabu (21/10) dini hari WIB. Matteo Politano, Scott McTominay yang mencetak dua gol, serta gol bunuh diri Fredrik Bjørkan Bjørtuft memastikan kemenangan tuan rumah. Meski demikian, Bodø/Glimt mampu mencetak tiga gol dan beberapa kali mengancam hasil akhir pertandingan.

Hasil tersebut menjadi suntikan kepercayaan diri bagi Napoli setelah mereka mengalami periode sulit, termasuk kekalahan dari Villarreal di Liga Champions dan Venezia di Serie A. Akan tetapi, Allegri menegaskan bahwa timnya masih memiliki pekerjaan rumah besar, terutama dalam mengantisipasi serangan lawan dan menjaga organisasi pertahanan.

Allegri Yakin De Bruyne Cocok dengan Peran Baru

Salah satu keputusan taktis Allegri dalam pertandingan melawan Bodø/Glimt adalah menempatkan De Bruyne sebagai deep-lying playmaker, atau pengatur serangan dari posisi lebih dalam di lini tengah. Gelandang asal Belgia tersebut dimainkan di depan barisan pertahanan, menggantikan peran Stanislav Lobotka yang diistirahatkan.

Allegri percaya kualitas teknik dan visi bermain De Bruyne membuatnya mampu menjalankan tugas tersebut dengan baik. Menurutnya, pemain berusia 35 tahun itu dapat memberikan kontribusi besar melalui umpan pendek maupun distribusi bola jarak jauh dari area yang lebih dalam.

Baca juga: McTominay Cetak Brace, Napoli Kalahkan Bodø/Glimt 4-3 dalam Laga Dramatis

“Kevin adalah pemain yang luar biasa. Saya mengatakan kepadanya bahwa dia akan sangat menikmati bermain di depan pertahanan,” ujar Allegri kepada Sky Sport Italia.

Sang pelatih juga menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan semata-mata perubahan taktik, tetapi turut mempertimbangkan kebutuhan untuk memberikan waktu istirahat kepada Lobotka. De Bruyne tetap mampu menunjukkan kualitasnya meskipun dimainkan dalam posisi yang berbeda dari peran menyerang yang selama ini lebih identik dengannya.

De Bruyne memiliki kemampuan untuk mengendalikan tempo permainan dan membuka ruang melalui umpan progresif. Allegri berharap kualitas tersebut dapat membantu Napoli memperbaiki sirkulasi bola sekaligus memberikan dasar yang lebih kuat untuk membangun serangan balik.

Namun, keberhasilan eksperimen tersebut tidak sepenuhnya menutupi persoalan Napoli. Tim tuan rumah masih kesulitan menjaga keseimbangan ketika kehilangan bola, sehingga lawan dapat menemukan celah di antara lini tengah dan pertahanan.

Pertahanan Napoli Masih Rapuh

Bermain di hadapan pendukung sendiri, Napoli dua kali kehilangan keunggulan setelah Jens Petter Hauge dan Andreas Helmersen membawa Bodø/Glimt menyamakan kedudukan. 

Namun, McTominay kembali menjadi pembeda pada babak kedua sebelum gol bunuh diri Bjørtuft membuat Napoli unggul dua gol. Sondre Fet memperkecil ketertinggalan pada masa tambahan waktu, tetapi Napoli mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir. 

Baca juga: Villarreal 3-1 Napoli: The Yellow Submarine Bangkit dan Amankan Kemenangan

Allegri mengakui bahwa Napoli terlalu mudah ditembus ketika bertahan di dekat kotak penalti. Ia menyoroti bagaimana pemain lawan dapat mengirimkan bola melewati sejumlah pemain Napoli tanpa mendapatkan tekanan yang cukup.

“Kami melakukan banyak kesalahan pada awal pertandingan. Di Liga Champions, situasinya tidak pernah mudah. Ketika berada dekat kotak penalti, kami membiarkan terlalu banyak bola masuk dengan mudah,” kata Allegri.

Ia menilai Napoli perlu lebih sabar membaca jalur umpan lawan dan memperbaiki posisi antarpemain. Menurutnya, kemampuan memotong aliran bola lawan bukan hanya penting untuk bertahan, tetapi juga dapat menjadi titik awal serangan balik yang lebih efektif.

Allegri juga mengingatkan bahwa kondisi kebugaran sejumlah pemain belum sepenuhnya optimal. Frank Anguissa baru kembali menjadi starter setelah absen sejak 5 September, sedangkan McTominay masih berusaha mencapai kondisi terbaiknya.

Situasi tersebut menjadi salah satu alasan Napoli belum mampu mengontrol pertandingan secara konsisten. Namun, Allegri menegaskan bahwa persoalan kebugaran tidak boleh menjadi alasan untuk terus kebobolan dengan cara yang sama.

Napoli Harus Menjaga Momentum di Eropa

Kemenangan atas Bodø/Glimt memberikan Napoli tiga poin berharga dan menjaga peluang mereka untuk melanjutkan perjalanan di Liga Champions. Meski begitu, skor 4-3 memperlihatkan bahwa produktivitas di lini depan belum diimbangi kestabilan di belakang.

Allegri kini dituntut menemukan keseimbangan antara kebebasan De Bruyne dalam mengatur serangan dan kebutuhan tim untuk mempertahankan struktur permainan. Peran baru sang gelandang berpotensi menjadi solusi kreatif, tetapi efektivitasnya akan bergantung pada kemampuan seluruh tim menjaga jarak antarlini serta meminimalkan kesalahan sendiri.

Napoli telah mengakhiri rangkaian hasil buruk di Eropa dengan kemenangan yang penting. Namun, bagi Allegri, pekerjaan belum selesai. Jika ingin bersaing hingga fase berikutnya, Napoli harus membuktikan bahwa mereka mampu meraih hasil positif tanpa terus bergantung pada kemampuan mencetak lebih banyak gol daripada lawan.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!