Di era modern, penghargaan Golden Boy telah bertransformasi menjadi mahkota paling dicari bagi para pesepak bola muda di bawah usia 21 tahun yang berkarier di Eropa. Ketika surat kabar olahraga Italia Tuttosport mencetuskan ide ini pada tahun 2003, dunia menantikan siapa sosok berbakat besar yang layak menjadi simbol perdana dari supremasi talenta muda tersebut. Jawabannya lahir dari akademi legendaris De Toekomst milik AFC Ajax: Rafael van der Vaart.   

Pada usia 20 tahun, gelandang serang berkaki kiri magis tersebut resmi mengukir namanya di babak pertama buku sejarah Golden Boy, mengalahkan deretan prospek terbaik Benua Biru pada masa itu.   

Kejeniusan Sang Maestro Kidal dari Amsterdam

Awal milenium menjadi panggung pembuktian bagi Van der Vaart sebagai salah satu bakat paling bersinar yang pernah dilahirkan sepak bola Belanda. Memiliki visi bermain yang tajam, kontrol bola dengan teknik tinggi, serta sepakan kaki kiri mematikan dari jarak jauh, Van der Vaart tidak hanya sekadar pengatur serangan biasa. Ia adalah pengubah arah pertandingan yang mampu mencetak gol-gol krusial dari lini kedua.

Bersama Ajax, Van der Vaart tampil begitu dominan di kompetisi Eredivisie maupun panggung UEFA Champions League. Di bawah asuhan Ronald Koeman, ia bahkan dipercaya memegang ban kapten Ajax pada usia yang masih sangat muda. Kepemimpinannya di lapangan serta konsistensi performanya menjadikannya pilihan mutlak para jurnalis olahraga Eropa dalam pemungutan suara edisi perdana Golden Boy.

Awal Lahirnya Sebuah Standar Tinggi Sepak Bola Dunia

Penghargaan yang digagas oleh jurnalis Tuttosport, Massimo Franchi, tersebut awalnya dirancang untuk memberi panggung khusus bagi generasi penerus sepak bola. Keberhasilan Van der Vaart menyabet mahkota pertama pada tahun 2003 menetapkan tolok ukur yang sangat tinggi bagi para pemenang di tahun-tahun berikutnya.   

Sebab, jejak yang dibuka oleh sang maestro Ajax ini kelak ikuti oleh nama-nama besar yang mentransformasi sejarah sepak bola, mulai dari Wayne Rooney, Lionel Messi, Cesc Fàbregas, hingga bintang-bintang era modern seperti Kylian Mbappé, Erling Haaland, Jude Bellingham, Lamine Yamal, hingga Désiré Doué.   

Meskipun karier Van der Vaart di tingkat klub kemudian membawanya melanglang buana ke Real Madrid, Hamburger SV, hingga Tottenham Hotspur, gelar sebagai "The First Golden Boy" akan selalu menjadi salah satu warisan paling ikonik dalam rekam jejak kariernya. Ia bukan hanya pemenang pertama, melainkan simbol lahirnya panggung penghargaan yang kini menjadi standar keemasan bagi calon megabintang sepak bola dunia.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!