Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Lebih dari satu dekade telah berlalu, namun luka akibat kegagalan meraih Ballon d'Or 2013 masih membekas dalam ingatan mantan winger Bayern Munich dan Prancis, Franck Ribéry. Berbicara dalam acara Festival dello Sport di Trento, Italia, pria berusia 43 tahun itu kembali merenungkan salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah penghargaan individu sepak bola modern.
Pada tahun 2013, Ribéry menjadi motor utama keberhasilan Bayern Munich meraih treble bersejarah, mengawinkan gelar Liga Champions, Bundesliga, dan DFB-Pokal, sebelum melengkapinya dengan Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub.
Di tingkat individu, ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa UEFA dan Pemain Terbaik Bundesliga. Namun, saat pengumuman akhir Ballon d'Or digelar, Ribéry secara mengejutkan hanya finis di posisi ketiga di belakang Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Menjelaskan momen puncak kariernya tersebut, Ribéry menegaskan bahwa tidak ada lagi pencapaian kolektif maupun individu yang bisa ia tambahkan pada musim itu.
"Tahun 2013 adalah tahun keemasan saya," ungkap Ribéry.
"Saya adalah pemain terbaik di Bundesliga dan Eropa. Saya bahkan layak mendapatkan Ballon d'Or. Tidak memenangkannya itu menyakitkan. Itu adalah sebuah kekecewaan.
Baca juga: Anthony Gordon Jagokan Harry Kane dan Lamine Yamal Menang Ballon d’Or
“Saya tidak keberatan mengakuinya. Itu adalah musim yang luar biasa; saya memenangkan segalanya dan tampil gemilang, baik bersama Bayern maupun tim nasional... Apa lagi yang bisa saya lakukan?"
Pertanyaan retoris tersebut terus bergema di kalangan pencinta sepak bola dunia. Dalam pemungutan suara akhir tahun 2013, Cristiano Ronaldo keluar sebagai pemenang dengan 27,99 persen suara, diikuti Lionel Messi di posisi kedua dengan 24,72 persen.
Ribéry harus puas di urutan ketiga dengan mengantongi 23,36 persen suara, meskipun ia meraih lebih banyak trofi utama dibandingkan kedua pesaingnya jika digabungkan.
Salah satu faktor utama yang terus memicu perdebatan hingga hari ini adalah keputusan FIFA yang secara mendadak memperpanjang batas waktu pemungutan suara selama dua pekan.
Langkah tak biasa tersebut terjadi tepat setelah Cristiano Ronaldo mencetak hat-trick krusial bagi Portugal dalam laga play-off Piala Dunia melawan Swedia.
Baca juga: Negara dengan Ballon D'or Terbanyak
Bagi Ribéry, perubahan aturan di tengah jalan tersebut mengubah arah penilaian yang seharusnya berfokus pada konsistensi sepanjang tahun dan raihan trofi. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, ia bahkan terang-terangan menyebut keputusan tersebut sebagai "ketidakadilan terbesar" dalam kariernya.
Meski kini telah resmi gantung sepatu dari lapangan hijau, pengakuan terbaru Ribéry di Trento menunjukkan betapa dalamnya dampak keputusan tahun 2013 tersebut. Bagi sang penyerang Prancis, Ballon d'Or 2013 bukan sekadar trofi yang hilang, melainkan simbol dari sebuah pencapaian puncak yang terabaikan oleh keputusan politik sepak bola.