Pelatih AC Milan, Ruben Amorim, secara terbuka mengakui kemungkinan adanya hambatan mental dalam skuadnya setelah menelan kekalahan 2-0 dari Benfica pada laga pembuka fase liga UEFA Europa League di San Siro. Kekalahan perdana sang manajer Portugal bersama I Rossoneri tersebut diwarnai oleh keputusannya melakukan rotasi besar-besaran yang memicu perdebatan publik.  

Gol dari Dodi Lukebakio dan Jakub Kaminski menghukum penampilan tuan rumah, sekaligus memberi Benfica kemenangan bersejarah pertama mereka atas AC Milan di panggung Eropa. Hasil ini juga melanjutkan tren mengkhawatirkan Milan yang selalu tampil melempem pada babak pertama dalam beberapa laga terakhir.  

Performa Babak Pertama dan Mentalitas

Berbicara kepada Sky Sport Italia usai pertandingan, Amorim tidak menutupi rasa cemasnya atas pendekatan anak asuhnya saat memulai pertandingan. Setelah meraih dua hasil imbang beruntun melawan Juventus dan Lazio di Serie A, performa babak pertama Milan kembali tak bertenaga dan penuh dengan kecemasan.  

"Saya tidak tahu pasti apakah ini masalah mental, tetapi ini adalah pertandingan kedua berturut-turut di mana kami sama sekali tidak berada di dalam permainan pada babak pertama," ujar Amorim. 

Baca juga: AC Milan 0-2 Benfica: Lukébakio dan Kamiński Tumbangkan Rossoneri di San Siro

"Kami tidak boleh kemasukan gol seperti itu karena ketika kami kesulitan menciptakan peluang, kami menjadi gugup dan cemas, sehingga segalanya menjadi jauh lebih sulit."  

Amorim juga menyoroti bagaimana permainan timnya justru menghasilkan lebih banyak masalah saat menguasai bola dibanding saat bertahan, terutama akibat ketiadaan pergerakan tanpa bola di sepertiga akhir lapangan.  

Pembelaan atas Rotasi dan Keputusan Kontroversial

Sorotan tajam mengarah pada keputusan taktis Amorim yang membangkuadangkan veteran Luka Modrić sepanjang 90 menit serta mencoret Diego Moreira dari daftar starter, padahal sang pemain muda baru saja mencetak dua gol ke gawang Lazio. 

Sebagai gantinya, Amorim memberikan kesempatan debut starter musim ini kepada Omari Hutchinson dan Filippo Terracciano.  

Amorim membela keputusannya dengan alasan manajemen kebugaran fisik skuad di tengah jadwal padat, sembari menegaskan bahwa masalah utama tim terletak pada kolektivitas organisasi dan bukan pada individu pemain tertentu.

"Rabiot baru saja bermain 90 menit penuh untuk pertama kalinya dan kami tidak tahu apakah dia sanggup mengulanginya lagi secara beruntun," jelas Amorim. 

Baca juga: Juventus 1-1 AC Milan: Gatti Selamatkan Bianconeri dari Kekalahan di Menit Akhir

"Kami perlu berkembang sebagai sebuah tim. Ini bukan hanya tentang satu atau dua pemain yang tidak bermain, melainkan kedisiplinan dan kepastian mengeksekusi rencana permainan."  

Keterbukaan untuk Melakukan Adaptasi Taktis

Kendati dikenal memegang teguh filosofi permainan dan struktur taktis yang spesifik, Amorim menegaskan bahwa dirinya tidak akan bersikap keras kepala demi meraih kemenangan. Ia menyatakan kesiapannya untuk beradaptasi demi mencari formula terbaik bagi Milan.  

“Saya terus melakukan perubahan; kita perlu memulai dari sebuah fondasi, dan kita memiliki waktu dua bulan untuk bekerja,” ujarnya.

“Malam ini kami kalah, tetapi kami akan mencari solusi untuk beradaptasi dengan pertandingan-pertandingan ini—karena kami perlu membangun sebuah gagasan, namun juga harus meraih kemenangan—jadi tentu saja kami bisa beradaptasi.”

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!